Home Top Ad

Breaking News

Pagelaran Wayang Kulit Ruwah Desa Grabagan Angkat Lakon “Tentreming Bumi” | Warga Masyarakat Antusias.

Pagelaran wayang kulit pada saat di mulai acara Bersih Desa. 


SIDOARJO – Dalam rangka tradisi tahunan Ruwah Desa atau Bersih Desa, Pemerintah Desa Grabagan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, menggelar pagelaran wayang kulit yang berlangsung meriah dan disambut antusias warga.


Pagelaran tersebut menghadirkan dalang Ikhwan asal Kedungwonokerto, Kecamatan Prambon, dengan membawakan lakon “Tentreming Bumi” yang sarat pesan moral tentang ketenteraman dan harmoni kehidupan. 


Sejak malam hari, warga tampak memadati lokasi acara untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang menjadi bagian dari kearifan budaya Jawa itu.


Sekretaris Desa Grabagan, Moch Tofan Afandi selaku Pelaksana Harian (Plh) Kepala Desa, menyampaikan bahwa ruwah desa merupakan wujud rasa syukur sekaligus doa bersama seluruh warga desa.


“Melalui ruwah desa dan pagelaran wayang ini, kami memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Grabagan senantiasa diberi ketenteraman, keselamatan, dan keberkahan,” ujarnya.


Ia juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi sebagai perekat sosial masyarakat. Menurutnya, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi identitas sekaligus kekuatan dalam membangun kebersamaan warga.


“Tradisi ini harus terus dirawat karena menjadi identitas dan kekuatan kebersamaan warga,” tambahnya.


Pada kesempatan yang sama, selain unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Tulangan, turut hadir anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo Komisi D, Wahyu Lumaksono.

Gambar:  tamu undangan dan warga masyarakat yang ikut dalam partisipasi tontonan Adat tradisional. 


Dalam sambutannya, ia mengapresiasi komitmen Pemerintah Desa dan masyarakat Grabagan dalam melestarikan budaya lokal melalui pagelaran wayang kulit.


“Wayang kulit bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Nilai-nilai luhur di dalamnya relevan dengan pembangunan karakter dan kebersamaan masyarakat desa,” katanya.


Ia juga mendorong agar kegiatan budaya seperti ruwah desa terus mendapatkan dukungan karena memiliki nilai sosial dan edukatif yang tinggi.


“Kegiatan budaya harus terus hidup, karena di sanalah nilai gotong royong dan jati diri masyarakat terjaga,” pungkasnya.

Tarian adat "Neremo" pasca di mulainya acara wayang kulit.


Pagelaran wayang kulit berlangsung hingga larut malam dan menjadi simbol kebersamaan warga Desa Grabagan dalam menjaga warisan budaya sekaligus memanjatkan doa untuk masa depan desa yang aman, rukun, dan sejahtera. (P. Dhe Sulton/Red)